
WEWAW
Setiap tanggal 8 Maret, dunia memperingati International Women’s Day (IWD) atau Hari Perempuan Internasional. Momen ini bukan sekadar perayaan simbolis, tetapi refleksi atas perjuangan panjang perempuan dalam memperoleh hak yang setara, baik di bidang sosial, politik, maupun ekonomi.
Menurut United Nations (2024), peringatan ini menjadi isu global untuk mengevaluasi kemajuan kesetaraan gender sekaligus mengingatkan bahwa masih banyak tantangan yang harus diatasi, terutama dalam dunia kerja.
Sejarah International Women’s Day: Dari Aksi Protes hingga Pengakuan Global

(Sumber: Pexels)
Sejarah Hari Perempuan Internasional berawal pada tahun 1908 ketika sekitar 15.000 perempuan di New York melakukan aksi demonstrasi menuntut jam kerja yang lebih manusiawi, upah yang adil, dan hak pilih (United Nations, 2024).
Pada tahun 1910, aktivis asal Jerman, Clara Zetkin, mengusulkan adanya hari khusus untuk memperjuangkan hak perempuan dalam Konferensi Perempuan Pekerja Internasional di Kopenhagen (International Women’s Day Official Website, 2024). Usulan ini kemudian berkembang menjadi gerakan global yang kini dikenal sebagai International Women’s Day.
Sejak tahun 1975, PBB secara resmi memperingati 8 Maret sebagai Hari Perempuan Internasional. Hingga kini, momen ini digunakan untuk mengevaluasi kemajuan kesetaraan gender dan mengingatkan dunia bahwa perjuangan belum selesai (United Nations, 2024).
Mengapa International Women's Day Lebih dari Sekadar Perayaan?

(Sumber: Pexels)
Visi utama International Women’s Day adalah menciptakan dunia yang setara secara gender. Menurut UN Women (2024), tujuan peringatan International Women’s Day mencakup:
Mendorong partisipasi perempuan dalam kepemimpinan politik dan ekonomi
Menghapus kekerasan berbasis gender
Menjamin akses pendidikan dan kesehatan yang setara
Mengurangi kesenjangan ekonomi antara laki-laki dan perempuan
Selain itu, laporan “Global Gender Gap Report 2024” dari World Economic Forum (2024), menyatakan bahwa kesetaraan gender berkontribusi langsung pada pertumbuhan ekonomi global dan stabilitas sosial.
Tantangan Perempuan Berkarier dalam Dunia Kerja

(Sumber: Pexels)
Gender Pay Gap (Kesenjangan Upah)
Menurut Blau & Kahn (2017) dalam Journal of Economic Literature, kesenjangan upah gender masih dipengaruhi oleh segregasi pekerjaan (kondisi ketika jenis pekerjaan tertentu didominasi oleh kelompok tertentu, sehingga terjadi pemisahan antara pekerjaan “untuk laki-laki” dan pekerjaan “untuk perempuan”) dan diskriminasi.
Perempuan juga sering kali menerima gaji lebih rendah meskipun memiliki pendidikan dan pengalaman yang setara. Laporan World Economic Forum (2024), juga menunjukkan bahwa kesenjangan ekonomi global antara laki-laki dan perempuan masih membutuhkan waktu puluhan tahun untuk ditutup sepenuhnya.
Glass Ceiling dan Sticky Floor
Fenomena glass ceiling menggambarkan hal-hal tak terlihat yang dapat menghambat seseorang. Salah satunya terjadi pada perempuan ketika mereka punya kemampuan dan pengalaman yang cukup, namun pada kenyataannya posisi jabatan tertinggi masih didominasi oleh laki-laki. Hal ini dikarenakan stereotip bahwa perempuan kurang tegas atau labil, serta beban ganda antara pekerjaan dan keluarga.
Sedangkan sticky floor adalah kondisi ketika seseorang, sering kali perempuan terjebak di posisi bawah atau level awal dalam pekerjaan dan sulit naik jabatan. Menurut International Labour Organization (2023), representasi perempuan dalam posisi pemimpin ataupun senior masih jauh lebih rendah dibanding laki-laki.
Motherhood Penalty dan Beban Ganda
Sheryl Sandberg (2013), menjelaskan bahwa banyak perempuan mengalami motherhood penalty, yaitu penurunan peluang promosi atau peningkatan gaji setelah menjadi ibu. Sandberg (2013), juga menyebutkan bahwa perempuan sering kali “mundur” secara mental dari ambisi kariernya karena ekspektasi sosial untuk menjadi pengasuh utama di rumah tangga. Kondisi ini diperparah dengan beban ganda antara pekerjaan profesional dan tanggung jawab rumah tangga.
Solusi Menghadapi Tantangan Karier Perempuan

(Sumber: Pexels)
Meningkatkan Kompetensi dan Literasi Digital
Menurut World Economic Forum (2024), penguasaan keterampilan digital dan teknologi menjadi kunci dalam berkarier di era otomatisasi. Dengan meningkatkan kompetensi, perempuan dapat memperluas peluang karier dan daya saing di dunia kerja.
Meningkatkan Kepercayaan Diri
Perempuan perlu berani menyampaikan pencapaian dan aspirasi mereka. Seperti yang disampaikan Sandberg (2013), perempuan perlu “duduk di meja perundingan” (sit at the table) agar suara dan kontribusinya terlihat.
Mentoring
Laporan World Economic Forum (2024), menyebutkan bahwa dukungan aktif secara intensif dan eksklusif dari pemimpin maupun senior profesional berperan penting dalam mempercepat kemajuan karier perempuan.
Kebijakan Kerja yang Ramah Keluarga
Menurut United Nations (2024), kebijakan seperti cuti, jam kerja fleksibel, dan perlindungan anti-diskriminasi dapat membantu menciptakan lingkungan kerja yang lebih setara.
WEWAW Hadir sebagai Solusi Perempuan dalam Menghadapi Tantangan
WEWAW kembali hadir dengan Program Mentorship Angkatan ke-6 dengan tema “Mastery of Digital Mindset”. Program Mentorship WEWAW telah menjadi program pemberdayaan perempuan di era digital sebagai ruang tumbuh, edukasi, pendampingan berkelanjutan, dan kolaborasi strategis.
Dalam program mentorship, mentee akan didampingi secara intensif dan eksklusif oleh kakak Mentor secara GRATIS bagi 30 perempuan muda usia 18-27 tahun (WAWgirls). Harapan dari kesempatan ini adalah bisa mendorong pengembangan kesadaran diri, kapasitas digital, kepemimpinan, serta dampak sosial.

(Sumber: WEWAW)
Kesempatan yang diberikan dalam Program Mentorship Angkatan ke-6
Mendapatkan bimbingan secara eksklusif, intensif, dan GRATIS selama 7 bulan dari 13 kakak mentor profesional dan berpengalaman di bidangnya.
Berjejaring dengan sesama mentee yang tersebar di seluruh Indonesia.
Berkesempatan jadi bagian dari sisterhood WEWAW (komunitas perempuan yang mendukung pengembangan karier dan bisnis dengan 200+ alumni mentee dan mentor).
Praktik langsung guna mengasah kemampuan dan pengetahuan.
Momentum International Women’s Day bukan hanya sekadar perayaan, tetapi juga sebagai sebuah gerakan untuk perempuan saling mendukung dan merangkul agar bisa memiliki kesempatan yang sama untuk bertumbuh dan berkarier.
Tunggu apa lagi? Kini giliranmu untuk bisa menjadi perempuan yang berkembang dan berdaya!
Yuk, tingkatkan kualitas, kapasitas, dan kapabilitasmu di era digital yang kompetitif ini. Saatnya jadi mentee dalam Program Mentorship WEWAW Angkatan ke-6!
Daftarkan dirimu melalui link: bit.ly/wewawmentee6
Pendaftaran dilaksanakan pada 21 Februari - 9 Maret 2026.
Baca Juga WEWAW Membuka Program Mentorship Angkatan ke-6 Bersama 13 Mentor Perempuan Hebat dan Inspiratif
Referensi
Blau, F. D., & Kahn, L. M. (2017). The Gender Wage Gap: Extent, Trends, and Explanations. Journal of Economic Literature.
International Labour Organization. (2023). Women in Business and Management Report.
International Women’s Day Official. (2024). History of International Women’s Day.
Sandberg, S. (2013). Lean In: Women, Work, and the Will to Lead. Alfred A. Knopf.
United Nations. (2024). Background on the International Women's Day.
UN Women. (2024). International Women’s Day Overview.
World Economic Forum. (2024). Global Gender Gap Report 2024.
Temukan berbagai edukasi inspiratif dari WEWAW, komunitas pemberdayaan perempuan untuk berkembang dalam karier dan bisnis. Ikuti ragam kegiatan kami melalui:
Instagram: @wewaw.id
LinkedIn: WEWAW Indonesia
TikTok: @wewaw.id
Website: wewaw.org






