
SELF-DEVELOPMENT
Pernahkah kamu merasa terjebak dalam situasi di mana kamu harus mengiyakan permintaan lembur mendadak dari atasan, meskipun sudah berjanji akan makan malam bersama keluarga? Atau mungkin kamu merasa "sungkan" atau “tidak enak” untuk menolak tugas administratif seperti memesan konsumsi rapat, padahal tugas utama kamu dalam bekerja adalah sebagai staf proyek lapangan?
Di Indonesia, budaya kerja seringkali menjunjung tinggi nilai kekeluargaan dan gotong royong. Namun, tanpa disadari nilai-nilai seperti ewuh pakewuh (rasa segan) sering kali membuat pekerja, terutama perempuan berkarier sulit menetapkan batasan (boundaries). Padahal, menurut para pakar psikologi, kemampuan menetapkan batasan adalah bentuk tertinggi dari self-respect (menghargai diri sendiri) dan kunci untuk menghindari burnout.
Apa Itu Batasan atau Boundaries?
Menurut American Psychological Association (APA), batasan (boundaries) adalah pedoman atau aturan yang ditetapkan individu untuk melindungi kesejahteraan emosional dan psikologisnya dalam relasi sosial.
Batasan dapat membantu seseorang menentukan apa yang dapat diterima dan apa yang tidak dapat diterima dalam berinteraksi dengan orang lain.
Dalam dunia kerja, batasan bukan berarti menjadi sosok yang tidak kooperatif. Sebaliknya, batasan adalah kejelasan mengenai kapan suatu individu tersedia, tugas apa yang menjadi tanggung jawabnya, dan bagaimana individu tersebut ingin diperlakukan.

(Sumber: Pexels)
Sementara itu, menurut Henry Cloud dan John Townsend dalam karyanya “Boundaries: When to Say Yes, How to Say No”, batasan adalah cara seseorang mengambil tanggung jawab atas hidupnya sendiri. Mereka menekankan bahwa mengatakan “tidak” pada hal yang merugikan adalah langkah penting menuju kehidupan yang sehat secara emosional.
Dengan kata lain, batasan adalah cara suatu individu berkomunikasi dengan orang lain mengenai apa yang membuat dirinya merasa aman dan nyaman.
Mengapa Menetapkan Batasan Adalah Bentuk Self-Respect?
Berdasarkan publikasi ilmiah dalam Journal of Occupational Health Psychology, ketidakjelasan batasan antara pekerjaan dengan kehidupan pribadi berkaitan dengan meningkatnya stres kerja dan risiko burnout. Hal ini menunjukkan bahwa batasan yang sehat bukan sekadar preferensi pribadi, melainkan kebutuhan psikologis. Secara ilmiah, menetapkan batasan penting karena:
Melindungi Kesehatan Mental
Menurut American Psychological Association (APA), seorang individu mampu mengkomunikasikan batasannya secara asertif (jujur, tegas, dan lugas dalam menyampaikan pendapat, keinginan, atau perasaan, namun tetap menghormati hak, perasaan, dan batasan orang lain) cenderung memiliki tingkat stres lebih rendah.
Meningkatkan Rasa Harga Diri
Berdasarkan teori self-determination, dimana individu memiliki kendali, kebebasan, dan kebulatan tekad untuk memilih, mengatur, serta mengarahkan hidupnya sendiri, akan memiliki kesejahteraan psikologis yang lebih baik.
Mencegah burnout
Menurut World Health Organization (WHO), burnout adalah sindrom akibat stres kronis di tempat kerja yang tidak berhasil dikelola. Tanpa batasan, risiko burnout akan meningkat secara signifikan.
Baca Juga Sulit Kendalikan Diri? Coba Kenali Trigger Emosionalmu
Perempuan Berkarier di Dalam Ruang Lingkup Budaya Kerja Indonesia
Di Indonesia, perempuan sering menghadapi “peran ganda” sebagai profesional sekaligus pengurus rumah tangga. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), partisipasi perempuan dalam angkatan kerja terus meningkat, namun beban pekerjaan rumah tangga masih lebih banyak ditanggung perempuan.

(Sumber: Pexels)
Terdapat beberapa tantangan spesifik dalam budaya kerja di Indonesia, antara lain:
Budaya “Tidak Enakan” atau “Sungkan” dan Rasa Bersalah
Banyak perempuan Indonesia merasa tidak enak hati (sungkan) untuk menolak permintaan rekan kerja atau atasan. Ada kekhawatiran bahwa menetapkan batasan akan membuat mereka dicap sebagai orang yang sombong atau tidak loyal.
Fenomena “Office Housework”
Berdasarkan studi yang dipublikasikan oleh Harvard Business Review, perempuan lebih sering diharapkan melakukan tugas-tugas "domestik kantor" yang tidak berkontribusi pada promosi jabatan (non-promotable tasks). Di Indonesia, hal ini sering terlihat saat perempuan otomatis diminta menjadi notulen, mengatur konsumsi, atau mengurus aspek sosial kantor hanya karena stereotip gender.
Ekspektasi Selalu Ada dan Siap
Budaya kerja yang menganggap respon cepat sebagai tanda dedikasi, membuat banyak pekerja merasa harus selalu online bahkan di luar jam kerja.
Peran Ganda dan Tekanan Sosial
Menurut laporan UN Women Indonesia, perempuan menghabiskan waktu tiga kali lebih banyak untuk pekerjaan rumah tangga dibandingkan laki-laki. Tanpa batasan yang tegas di kantor (seperti mematikan notifikasi kerja pada saat di rumah), perempuan rentan mengalami kelelahan mental.
Ilustrasi Kasus: Dilema “Si Paling Baik” di Kantor

(Sumber: Pexels)
Mari ambil contoh dari Mawar (bukan nama sebenarnya), sebagai seorang staf administrasi pemasaran di Jakarta. Mawar dikenal sangat rajin dan jarang menolak tugas. Karena reputasinya ini, rekan-rekan kerjanya sering menitipkan tugas yang dianggap kecil oleh mereka kepada Mawar.
Karena merasa “sungkan”, Mawar selalu mengerjakan tugas tersebut dan baru pulang pukul 20.00 WIB, padahal jam kerja berakhir pukul 17.30 WIB. Dampaknya? Mawar kehilangan waktu istirahat, sering jatuh sakit, dan performa pada pekerjaan utamanya justru menurun.
Dari permasalahan ini, Mawar kurang baik dalam memberikan self-respect kepada dirinya sendiri. Ia memprioritaskan kenyamanan orang lain di atas kesehatan mentalnya sendiri. Kasus seperti ini mencerminkan lemahnya batasan profesional yang sering terjadi di lingkungan kerja Indonesia.
Menetapkan Batasan sebagai Langkah Menuju Profesionalisme yang Sehat
Kenali Hak di Bidang Profesional
Menurut prinsip kesehatan kerja dari WHO, setiap pekerja berhak atas waktu istirahat dan keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi (work-life balance).
Komunikasi Secara Asertif
Gunakan kalimat yang jelas namun sopan untuk memberikan konfirmasi apabila belum bisa merespon pada saat itu juga seperti “Saya akan menindaklanjuti pesan ini besok pagi pada jam kerja”.
Tetapkan Batasan dalam Penggunaan Alat Komunikasi
Mematikan notifikasi email atau hal-hal yang berhubungan dengan pekerjaan setelah jam kerja jika tidak bersifat darurat.
Bangun Dukungan Sosial
Diskusikan dengan atasan atau departemen Human Resource (HR) mengenai beban kerja yang dihadapi.
Konsisten
Batasan akan berjalan dengan baik jika diterapkan secara konsisten.
Baca Juga Ketahui 6 Etika Mengirim Pesan Secara Profesional
Manfaat Menetapkan Batasan dalam Berkarier
Mengurangi stres dan kelelahan
Meningkatkan fokus kerja
Menjaga kesehatan mental
Meningkatkan kualitas hubungan keluarga
Membangun citra profesional yang tegas dan kompeten
Menjalani karier yang sehat tidak hanya dibangun dari kerja keras, tetapi juga dari keberanian menetapkan batasan. Yuk mulailah untuk melindungi nilai, waktu dan energimu! Karena self-respect adalah fondasi masa depanmu!
Baca Juga Catat, 8 Personal Values di Dunia Kerja yang Wajib Dimiliki!
Referensi
American Psychological Association (APA). (2023). Setting Healthy Boundaries.
Badan Pusat Statistik (BPS). (2023). Keadaan Angkatan Kerja di Indonesia.
Cloud, H., & Townsend, J. (1992). Boundaries: When to Say Yes, How to Say No.
Zondervan.Harvard Business Review. (2018). Why Women Take on "Non-Promotable" Tasks.
UN Women Indonesia. (2020). Menilai Dampak COVID-19 terhadap Pekerjaan Perawatan yang Tidak Dibayar. (Konteks beban ganda perempuan Indonesia).
World Health Organization. (2019). Burn-out an occupational phenomenon.
Temukan berbagai edukasi inspiratif dari WEWAW, komunitas pemberdayaan perempuan untuk berkembang dalam karier dan bisnis. Ikuti ragam kegiatan kami melalui:
Instagram: @wewaw.id
LinkedIn: WEWAW Indonesia
TikTok: @wewaw.id
Website: wewaw.org






