Beberapa tahun terakhir, kita melihat banyak perubahan di dunia kerja. Mulai dari perkembangan Artificial Intelligence (AI), transformasi digital, hingga kabar pemutusan hubungan kerja (PHK) dan restrukturisasi di berbagai perusahaan. Kondisi ini membuat banyak orang mulai sadar bahwa rasa aman dalam karier tidak lagi hanya bergantung pada satu perusahaan atau satu posisi saja.

Banyak yang kemudian bertanya-tanya: "Kalau suatu hari nanti perusahaan melakukan efisiensi atau perubahan besar, aku harus bagaimana?"

Apa WAWgirls termasuk salah satu yang juga mulai overthinking?
Nah, belakangan mulai muncul istilah career cushioning sebagai salah satu cara untuk tetap bisa survive di tengah kondisi ekonomi yang lagi enggak baik-baik saja ini.

Meski terdengar baru, konsep tersebut sebenarnya cukup sederhana, yaitu dengan mempersiapkan diri agar tetap punya banyak pilihan karier walaupun terjadi banyak perubahan terhadap dunia kerja di masa depan. Ibarat punya dana darurat untuk keuangan, career cushioning adalah dana darurat untuk perjalanan karier. 

Apa Itu Career Cushioning?

Career cushioning adalah strategi untuk membangun "cadangan karier" dengan cara terus mengembangkan diri, memperluas relasi profesional, dan menjaga kemampuan tetap relevan dengan kebutuhan dunia kerja.

Strategi ini membantu kita tetap siap menghadapi perubahan tanpa harus panik jika suatu saat kondisi pekerjaan berubah. Beberapa contoh career cushioning antara lain:

  • Mengikuti pelatihan atau sertifikasi.

  • Memperbarui CV dan LinkedIn secara berkala.

  • Menyimpan hasil pekerjaan terbaik sebagai portofolio.

  • Aktif membangun networking.

  • Mengikuti perkembangan tren di industri yang ditekuni.

Semua langkah tersebut bertujuan untuk meningkatkan employability, yaitu kemampuan seseorang agar tetap dibutuhkan di dunia kerja.

(Sumber: Pexels)

Saat ini, perubahan terjadi jauh lebih cepat dibandingkan dengan beberapa tahun lalu. Teknologi semakin berkembang, jenis pekerjaan baru bermunculan, sementara beberapa pekerjaan juga mengalami perubahan karena otomatisasi dan AI. Menurut Future of Jobs Report dari World Economic Forum (2025), sekitar 39% keterampilan utama pekerja diperkirakan akan berubah dalam beberapa tahun ke depan. Artinya, kemampuan untuk terus belajar dan beradaptasi menjadi semakin penting.

Sementara itu, LinkedIn Workplace Learning Report 2025 juga menunjukkan bahwa perusahaan semakin menghargai karyawan yang memiliki kemauan untuk terus belajar (continuous learning), bukan hanya mereka yang memiliki banyak pengalaman. Karena itulah, banyak profesional mulai membangun "cadangan karier" sejak sekarang. Secara tidak langsung, career cushioning adalah tentang memastikan kita selalu siap menghadapi berbagai kemungkinan.

Tiga Langkah Memulai Career Cushioning

Apabila WAWgirls tertarik mulai menerapkan career cushioning, WAWgirls tidak perlu langsung melakukan semuanya sekaligus. Coba mulai dari tiga langkah sederhana berikut:

  1. Bangun Networking 

Networking sering kali dianggap sebagai kegiatan yang hanya dilakukan saat sedang mencari pekerjaan. Padahal, networking yang baik justru dibangun jauh sebelum kita membutuhkan pekerjaan. Beberapa cara yang bisa dicoba, misalnya:

  • Menjaga komunikasi dengan teman kuliah atau mantan rekan kerja.

  • Mengikuti seminar, webinar, atau komunitas profesional.

  • Aktif berdiskusi di LinkedIn.

  • Membagikan pengalaman atau insight yang relevan dengan bidang pekerjaan.

Penelitian Seibert, Kraimer, dan Liden (2001), menunjukkan bahwa jaringan profesional (social capital) memiliki hubungan positif dengan perkembangan karier seseorang. Namun perlu diingat bahwa, networking bukan tentang memiliki koneksi sebanyak-banyaknya. Namun tentang membangun hubungan yang tulus dan saling memberi manfaat.

  1. Jangan Berhenti Belajar

Perkembangan teknologi membuat keterampilan yang kita miliki perlu terus diperbarui. Namun tidak harus langsung menguasai semuanya secara sekaligus, bisa dengan konsistensi belajar sedikit demi sedikit. Upskilling bisa dimulai dari hal-hal sederhana, seperti:

  • Belajar memanfaatkan AI untuk pekerjaan sehari-hari.

  • Mengikuti kelas online.

  • Mengambil sertifikasi yang relevan.

  • Mengembangkan kemampuan komunikasi.

  • Meningkatkan kemampuan analisis data atau problem solving.

  1. Bangun Portofolio Terbarui

Apabila mendengar kata portofolio, mungkin yang terbayang adalah desainer atau fotografer. Padahal, hampir semua profesi bisa memiliki portofolio, misalnya berupa:

  • Proyek yang pernah dikerjakan.

  • Presentasi.

  • Artikel.

  • Laporan.

  • Sertifikat.

  • Penghargaan.

  • Testimoni dari klien atau rekan kerja.

Portofolio membantu orang lain melihat kemampuan kita melalui hasil yang nyata, bukan hanya daftar pengalaman di CV.

Career Cushioning Bagi yang Baru Memulai Karier

Buat WAWgirls yang baru lulus kuliah atau baru beberapa tahun bekerja, career cushioning justru bisa menjadi investasi jangka panjang. Semua proses tersebut akan menjadi bekal ketika peluang baru datang. Cobalah fokus untuk:

  • Menambah pengalaman.

  • Memperluas relasi profesional.

  • Terus belajar hal baru.

  • Membangun reputasi yang baik.

  • Mengenali bidang yang benar-benar ingin dikembangkan.

(Sumber: Pexels)

Namun perlu diingat, meskipun tujuannya baik, career cushioning juga perlu dilakukan dengan bijak. Jangan sampai keinginan untuk terus berkembang justru membuat kita mengambil terlalu banyak pekerjaan atau merasa harus selalu produktif setiap saat.

Ingat, membangun karier adalah proses jangka panjang. Sehingga tidak masalah apabila prosesnya terasa lambat, asalkan prosesnya tetap dijalankan dengan konsisten.

Jadi, Perlukah Career Cushioning?

Jawabannya kembali lagi pada kebutuhan dan tujuan karier masing-masing. Namun, di tengah dunia kerja yang terus berubah, memiliki keterampilan yang relevan, relasi profesional yang sehat, dan portofolio yang terus berkembang bisa menjadi investasi yang sangat berharga. 

Career cushioning bisa menjadi cara agar kita selalu punya pilihan ketika menghadapi perubahan. Karena pada akhirnya, rasa aman dalam karier bukan hanya datang dari tempat kita bekerja, tetapi juga dari kemampuan kita untuk terus belajar, beradaptasi, dan berkembang.

WAWgirls, jangan menunggu sampai merasa "terancam" untuk mulai mengembangkan diri. Cobalah untuk meluangkan waktu satu atau dua jam setiap minggu untuk belajar keterampilan baru, memperbarui portofolio, atau memperluas networking. Langkah kecil yang dilakukan secara konsisten bisa membuka peluang besar di masa depan. Tetap semangat ya WAWgirls!

Referensi
Athey, S., & Palikot, E. (2024). The value of non-traditional credentials in the labor market. arXiv.
Gallup. (2024). Employee upskilling is vital in a rapidly evolving job market. 
LinkedIn Learning. (2025). 2025 Workplace Learning Report. 
Seibert, S. E., Kraimer, M. L., & Liden, R. C. (2001). A social capital theory of career success. Academy of Management Journal.
World Economic Forum. (2025). The Future of Jobs Report 2025. 

Temukan berbagai edukasi inspiratif dari WEWAW, komunitas pemberdayaan perempuan untuk berkembang dalam karier dan bisnis. Ikuti ragam kegiatan kami melalui:

Instagram: @wewaw.id
LinkedIn: WEWAW Indonesia
TikTok: @wewaw.id
Website: wewaw.org



Jadi Kontributor

Bagikan Cerita dan Wawasan di Artikel WAW

Punya pengalaman atau insight menarik? Kirimkan artikelmu dan jadilah bagian dari komunitas inspiratif WEWAW.

Jadi Kontributor

Bagikan Cerita dan Wawasan di Artikel WAW

Punya pengalaman atau insight menarik? Kirimkan artikelmu dan jadilah bagian dari komunitas inspiratif WEWAW.