
SELF-DEVELOPMENT
Sering kali kita mengira rasa takut hanya muncul ketika menghadapi kegagalan. Padahal, ada juga yang disebut fear of success, yaitu rasa khawatir terhadap konsekuensi yang mungkin muncul ketika kita berhasil.
Di kondisi seperti ini bukan berarti seseorang tidak ingin berkembang. Justru, terkadang kesempatan yang besar juga membawa perubahan besar, dan perubahan itulah yang membuat sebagian orang ragu untuk melangkah. Salah satunya di lingkungan pekerjaan, seperti "Kalau tanggung jawabnya makin besar, apakah aku masih punya waktu untuk diri sendiri?"
Apa Itu Fear of Success?
Fear of success adalah kondisi ketika seseorang merasa cemas atau ragu untuk mengambil peluang yang sebenarnya bisa membawanya berkembang. Kekhawatiran tersebut bukan semata-mata tentang kemampuan, tetapi juga tentang apa yang akan berubah setelah berhasil, misalnya seperti:
Beban kerja yang bertambah;
Ekspektasi yang semakin tinggi;
Tanggung jawab yang lebih besar;
Berkurangnya waktu untuk diri sendiri atau keluarga;
atau kekhawatiran tidak bisa mempertahankan pencapaian tersebut.
Konsep ini sudah lama dibahas dalam psikologi. Penelitian menunjukkan bahwa sebagian orang dapat menghindari peluang tertentu karena menganggap keberhasilan akan membawa konsekuensi yang terasa berat secara emosional maupun sosial (Horner, 1972).
Kenapa Topik Ini Banyak Dibahas di Kalangan Gen Z?
Belakangan ini, banyak diskusi di media sosial tentang pekerja muda yang memilih menolak promosi, tidak ingin menjadi manajer, atau merasa lebih nyaman tetap berada di posisi saat ini. Fenomena tersebut seringkali langsung diberi label sebagai "tidak ambisius". Padahal, kenyataannya tidak sesederhana itu.

(Sumber: Pexels)
Banyak pekerja muda saat ini memiliki definisi sukses yang berbeda dibanding generasi sebelumnya. Selain perkembangan karier, mereka juga mempertimbangkan kesehatan mental, waktu bersama keluarga, fleksibilitas kerja, dan kualitas hidup secara keseluruhan. Artinya, menolak sebuah kesempatan belum tentu menunjukkan kurangnya motivasi. Bisa jadi, keputusan tersebut memang sesuai dengan prioritas hidup yang sedang dijalani.
Namun, di sisi lain, ada juga situasi ketika seseorang sebenarnya ingin berkembang, tetapi rasa takut membuatnya terus menunda atau menghindari kesempatan yang datang. Nah, di sinilah pentingnya membedakan antara keputusan yang sadar dan keputusan yang didorong oleh rasa takut.
Tanda-Tanda Fear of Success
Fear of success tidak selalu terlihat jelas. Terkadang, rasa takut ini muncul dalam bentuk kebiasaan sehari-hari. Beberapa tandanya antara lain:
Sering merasa belum cukup siap meskipun sudah memiliki kemampuan yang dibutuhkan.
Menolak kesempatan baru tanpa benar-benar mempertimbangkannya.
Terlalu fokus pada kemungkinan terburuk dibanding peluang yang bisa didapat.
Menunda mengambil keputusan penting karena takut menghadapi perubahan.
Merasa tidak nyaman ketika mendapat pengakuan atau apresiasi.
Hal ini menjadi wajar apabila sesekali mengalaminya. Yang perlu diperhatikan adalah ketika rasa takut tersebut terus berulang hingga menghambat perkembangan diri.
Kenapa Rasa Takut Ini Bisa Muncul?
Setiap orang memiliki alasan yang berbeda. Namun, beberapa faktor yang sering dikaitkan dengan fear of success antara lain:
Takut Ekspektasi Semakin Tinggi
Semakin tinggi posisi seseorang, biasanya semakin besar pula tanggung jawab yang diemban. Sebagian orang khawatir tidak mampu memenuhi ekspektasi tersebut secara konsisten.
Pernah Mengalami Burnout
Bagi seseorang yang pernah mengalami kelelahan akibat pekerjaan, promosi atau tanggung jawab baru bisa terasa menakutkan karena dianggap berisiko mengulang pengalaman yang sama.
Impostor Syndrome
Ada juga yang merasa pencapaiannya hanyalah "keberuntungan" sehingga takut suatu saat orang lain menyadari bahwa dirinya sebenarnya tidak cukup kompeten. Perasaan ini sering dikaitkan dengan impostor syndrome, meskipun keduanya merupakan konsep yang berbeda.
Takut Kehilangan Keseimbangan Hidup
Tidak sedikit pekerja yang sengaja mempertimbangkan keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi sebelum menerima tanggung jawab baru, dan itu adalah pertimbangan yang valid. Yang perlu diperhatikan adalah keputusan tersebut diambil berdasarkan kebutuhan pribadi, bukan semata-mata karena rasa takut menghadapi perubahan.

(Sumber: Pexels)
WAWgirls, tidak semua promosi atau kesempatan harus diterima. Ada kalanya kesempatan tidak diambil karena memang sedang ingin fokus pada keluarga, kesehatan, pendidikan, atau tujuan hidup lainnya. Yang perlu dipastikan adalah alasan di balik keputusan tersebut.
Cara Menghadapi Fear of Success
Kenali Apa yang Sebenarnya Ditakutkan
Terkadang yang membuat kita ragu bukanlah keberhasilannya, melainkan konsekuensi setelahnya. Semakin spesifik kekhawatiran yang dikenali, semakin mudah mencari solusinya.
Fokus pada Proses, Bukan Kesempurnaan
Tidak ada orang yang langsung mahir ketika menerima tanggung jawab baru. Setiap orang juga belajar sambil menjalani perannya. Tidak harus langsung sempurna untuk bisa berkembang.
Bangun Support System
Berdiskusi dengan mentor, atasan, teman kerja, atau orang yang dipercaya bisa membantu melihat situasi dari sudut pandang yang lebih objektif. Kita juga membutuhkan orang lain untuk mengingatkan dan menilai bahwa kemampuan kita lebih besar daripada yang kita kira.
Beri Diri Sendiri Kesempatan untuk Bertumbuh
Menerima peluang baru memang terasa menantang, dan untuk terus berkembang hampir selalu merasakan perasaan tidak nyaman di awal. Sehingga jangan sampai rasa takut menjadi satu-satunya alasan untuk berhenti mencoba.
Setiap orang berhak memiliki definisi suksesnya sendiri. Ada yang ingin menjadi pemimpin tim, ada yang lebih menikmati peran sebagai spesialis, ada juga yang memilih membangun bisnis atau mengejar bidang yang berbeda. Karier bukan tentang siapa yang paling cepat mencapai posisi tertentu. Karier adalah perjalanan untuk menemukan versi terbaik dari diri sendiri, dengan cara yang tetap selaras dengan kemampuan, kesehatan, dan tujuan hidup.
Referensi
Clance, P. R., & Imes, S. A. (1978). The imposter phenomenon in high achieving women: Dynamics and therapeutic intervention. Psychotherapy: Theory, Research & Practice.
Harvard Business Review. (2024). Why High Performers Sometimes Turn Down Promotions.
Horner, M. S. (1972). Toward an understanding of achievement-related conflicts in women. Journal of Social Issues.
World Economic Forum. (2025). The changing expectations of younger generations in the workplace.
Temukan berbagai edukasi inspiratif dari WEWAW, komunitas pemberdayaan perempuan untuk berkembang dalam karier dan bisnis. Ikuti ragam kegiatan kami melalui:
Instagram: @wewaw.id
LinkedIn: WEWAW Indonesia
TikTok: @wewaw.id
Website: wewaw.org






