WAWgirls, setiap tanggal 17 Agustus kita selalu kembali mendengar nama-nama pahlawan yang berjuang dalam sejarah kemerdekaan Indonesia. Namun, di antara nama yang sudah akrab di telinga, masih ada perempuan-perempuan yang kisah perjuangannya belum banyak dibicarakan.

Siapakah Mereka?

Mereka datang dari daerah dan latar belakang yang berbeda. Cara mereka melawan penjajahan juga beragam. Ada yang memimpin pasukan, mengangkat senjata, menyusun perlawanan rakyat, hingga menggunakan pendidikan, tulisan, dan politik sebagai jalan perjuangan. Tiga nama berikut mungkin belum sepopuler Kartini atau Cut Nyak Dhien. Namun, perjuangan mereka layak mendapat tempat dalam cerita sejarah Indonesia.

Nyi Ageng Serang, Perempuan di Balik Perang Diponegoro

Sumber Foto: Wikipedia

Ketika membicarakan Perang Diponegoro, nama Pangeran Diponegoro tentu lebih dulu muncul. Namun, ada seorang perempuan yang ikut terjun langsung dalam perang tersebut, yaitu Nyi Ageng Serang.

Nyi Ageng Serang, yang juga dikenal sebagai Kustiah Wulaningsih Retno Edi, berasal dari lingkungan keluarga pejuang. Ia terlibat dalam Perang Jawa atau Perang Diponegoro yang berlangsung pada tahun 1825–1830. Beberapa penelitian yang membahas mengenai dirinya menunjukkan bahwa, Nyi Ageng Serang memiliki peran sebagai pemimpin sekaligus penasihat dalam perjuangan pasukan Diponegoro.

Ada cerita menarik dari perjalanan hidup Nyi Ageng Serang. Ia tumbuh dalam lingkungan keluarga yang dekat dengan dunia perjuangan. Ayahnya, Panembahan Notoprojo, dikenal sebagai tokoh yang memiliki hubungan dengan perjuangan Pangeran Mangkubumi. Nyi Ageng Serang juga disebut mendapatkan pengalaman dan pengetahuan mengenai kemiliteran sejak berada di lingkungan keraton. Ia mempelajari berbagai pengetahuan yang kemudian berguna ketika terlibat dalam perjuangan.

Beberapa penelitian mengenai Nyi Ageng Serang menyebutkan bahwa dari pengetahuan tersebut, akhirnya ia memiliki kemampuan dalam strategi perang gerilya. Dalam Perang Diponegoro, ia terlibat dalam pergerakan pasukan dan turut memberikan arahan dalam menghadapi pasukan Belanda.

Menariknya, keterlibatannya tidak berhenti pada keberanian turun ke medan perang. Nyi Ageng Serang dikenal memiliki pengetahuan mengenai strategi gerilya. Sayangnya kajian dalam Journal of Urban Society's Arts menyebutkan bahwa, Nyi Ageng Serang merupakan salah satu tokoh perempuan Jawa yang relatif kurang dikenal secara nasional, meskipun memiliki peran dalam strategi perjuangan selama Perang Diponegoro.

Perannya dalam perang juga melibatkan keluarganya. Putranya, Pangeran Serang II, dan cucunya, Raden Mas Papak, turut terlibat dalam perjuangan. Pangeran Serang II bahkan disebut menjadi salah satu senopati dalam Perang Diponegoro. Hal ini menunjukkan bahwa perjuangan Nyi Ageng Serang juga berlangsung dalam lingkup keluarga yang sama-sama terlibat dalam perlawanan.

Siti Manggopoh, Perlawanan dari Ranah Minang

Dokumentasi Siti Manggopoh sumber: Parapuan.co (Diambil dari nisa.co.id)

Nama kedua datang dari Sumatera Barat, Siti Manggopoh. Pada tahun 1908, pemerintah kolonial Belanda menerapkan kebijakan belasting atau pajak di wilayah Minangkabau. Kebijakan tersebut memicu penolakan dari masyarakat. Siti Manggopoh kemudian ikut memimpin perlawanan rakyat terhadap kebijakan tersebut.

Penerapan belasting berkaitan dengan kebijakan pajak pemerintah kolonial terhadap masyarakat di Minangkabau. Bagi masyarakat setempat, persoalan tersebut juga berkaitan dengan tanah dan kehidupan adat. Penolakan kemudian berkembang menjadi perlawanan yang dikenal sebagai Perang Belasting. Perlawanan di Manggopoh mencapai puncaknya pada 16 Juni 1908.

Ada satu fakta yang membuat kisah Siti Manggopoh semakin menarik. Dalam catatan sejarah yang diterbitkan oleh pemerintah, Siti menjadi bagian dari kelompok masyarakat yang melakukan penyerangan terhadap benteng Belanda di Manggopoh. Senjata yang digunakan masyarakat saat itu antara lain rudus, tombak, dan berbagai senjata tradisional. Sumber tersebut juga mencatat bahwa Siti menjadi satu-satunya perempuan dalam kelompok yang melakukan penyerangan tersebut.

Perlawanan kemudian mencapai benteng Belanda di Manggopoh. Catatan sejarah pemerintah menyebut bahwa dalam peristiwa 16 Juni 1908, sebanyak 53 serdadu penjaga benteng tewas. Peristiwa tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam sejarah Perang Belasting di Manggopoh.

Para peneliti yang membahas mengenai Siti Manggopoh mencatat bahwa perlawanan terhadap belasting berkembang menjadi gerakan yang melibatkan masyarakat Manggopoh. Siti menjadi salah satu tokoh perempuan yang memimpin perlawanan terhadap pemerintah kolonial Belanda. Menariknya, kisah Siti Manggopoh sendiri masih relatif jarang masuk ke dalam pembahasan sejarah populer. Kajian mengenai perjuangannya menunjukkan bahwa sosok Siti Manggopoh masih perlu diperkenalkan lebih luas, terutama kepada generasi muda, agar sejarah perjuangan perempuan dari Minangkabau tidak hilang dari ingatan.

Rasuna Said, Perempuan yang Melawan Lewat Kata-Kata

Sumber Foto: Wikipedia

Jika Nyi Ageng Serang dan Siti Manggopoh dikenal melalui perjuangan fisik, Hajjah Rangkayo Rasuna Said memilih jalan yang berbeda. Perempuan asal Sumatera Barat ini dikenal sebagai guru, aktivis, penulis, dan orator. Perjuangannya sudah dimulai sejak masa kolonial. Ia aktif dalam organisasi pergerakan dan menggunakan pidato serta tulisan untuk menyampaikan kritik terhadap pemerintah kolonial.

Rasuna Said lahir pada tanggal 14 September 1910 di Panyinggahan, Maninjau, Sumatera Barat. Ia memperoleh pendidikan agama dan kemudian aktif sebagai pendidik. Pengalaman sebagai guru menjadi salah satu bagian awal dari perjalanan Rasuna sebelum ia semakin aktif dalam organisasi dan pergerakan politik.

Rasuna kemudian aktif dalam organisasi pergerakan. Ia pernah bergabung dengan Sarekat Rakyat dan Persatuan Muslim Indonesia atau Permi. Dalam aktivitasnya, ia dikenal sebagai perempuan yang memiliki kemampuan berpidato dan berdebat. Keberaniannya berbicara di depan umum kemudian membuatnya mendapat julukan “Singa Betina”.

Pada tahun 1932, pidatonya di Payakumbuh yang menyerukan kemerdekaan membuat Rasuna Said berhadapan dengan pemerintah kolonial dalam sebuah rapat umum. Hasil penelitian mencatat bahwa Rasuna menggunakan pidatonya untuk menyampaikan kritik terhadap pemerintah kolonial dan menyerukan pentingnya kemerdekaan Indonesia. Pidatonya kemudian dihentikan oleh Politieke Inlichtingen Dienst atau PID, badan intelijen politik pemerintah kolonial. Rasuna dibawa ke pengadilan dan dikenai aturan kolonial yang digunakan untuk membatasi kegiatan politik dan pertemuan. 

Hal menarik dari perjalanan Rasuna adalah keberaniannya menggunakan kemampuan berbicara sebagai bagian dari perjuangan. Setelah Indonesia merdeka, Rasuna Said tetap aktif dalam kehidupan politik dan menjadi anggota parlemen. Ia juga terlibat dalam organisasi perempuan dan menyuarakan pentingnya kesempatan perempuan dalam pendidikan serta politik.

Seberapa Banyak Nama Mereka Perlu Kita Ingat?

Nyi Ageng Serang, Siti Manggopoh, dan Rasuna Said hidup pada masa dan lingkungan yang berbeda. Bentuk perjuangan mereka pun tidak sama. Nyi Ageng Serang berada di tengah Perang Diponegoro. Siti Manggopoh memimpin perlawanan rakyat Minangkabau terhadap kebijakan kolonial. Rasuna Said menggunakan pendidikan, organisasi, tulisan, dan pidato untuk melawan kolonialisme serta memperjuangkan ruang bagi perempuan. Cerita mereka menunjukkan betapa luasnya peran perempuan dalam perjalanan sejarah Indonesia.

Ada satu hal yang mempertemukan ketiga tokoh tersebut: keberanian untuk mengambil peran ketika keadaan tidak mudah. Nyi Ageng Serang berada di tengah perang dan terlibat dalam strategi perjuangan, Siti Manggopoh ikut berdiri bersama masyarakat dalam menghadapi kebijakan kolonial, serta Rasuna Said yang memilih menggunakan pendidikan dan suaranya untuk menyampaikan gagasan tentang kemerdekaan.

WAWgirls, mungkin kita tidak akan menemukan semua nama tersebut dalam buku pelajaran yang kita baca ketika sekolah. Namun, mereka tetap bagian dari sejarah yang membentuk negeri ini.

Memperingati hari Kemerdekaan Indonesia setiap tanggal 17 Agustus, bisa menjadi momen untuk mengenal kembali cerita-cerita yang selama ini berada di pinggir ingatan. Sebab, semakin banyak kisah yang kita kenal, semakin lengkap pula cara kita memahami perjuangan menuju Indonesia merdeka.

Tiga nama ini mungkin belum terlalu sering kita dengar.
Namun, sejarah mereka pantas untuk terus disebut.

Selamat Hari Kemerdekaan Indonesia ke-81, WAWgirls.

Daftar Pustaka

Afdhal, V. E., & Aswara, H. P. (2021). Perancangan Pop Up Book tentang Perjuangan Pejuang Perempuan Siti Manggopoh. Judikatif: Jurnal Desain Komunikasi Kreatif, 3(2).
Akmar, E. D. (2019). Perjuangan Nyi Ageng Serang dalam Perang Diponegoro 1825–1830 M. Skripsi. UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. (1980). Arkeologi di Bagian Barat Laut Provinsi Sumatera Barat. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Dari, W., Pramudawardhani, I., & Andriyanto. (2022). Perjuangan dan Kegigihan Nyai Ageng Serang dalam Perang Diponegoro Tahun 1825–1830. Keraton: Journal of History Education and Culture, 3(2).
Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional. (1983). Sejarah Perlawanan terhadap Imperialisme dan Kolonialisme di Sumatera Barat. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Fatimah, S. (2019). Perjuangan Mande Siti Melawan Kolonial Belanda di Manggopoh Sumatera Barat Tahun 1908–1925 sebagai Sumbangan Pengajaran Sejarah di SMA Muhammadiyah 3 Palembang. Skripsi. Universitas Muhammadiyah Palembang.
Martono, H., & Pertiwi, J. A. (2024). The Role of Nyi Ageng Serang in Guerilla Strategy of Diponegoro War: An Inspiration for Choreography Work. Journal of Urban Society's Arts, 11(1), 68–75.
Nurjanah, E. (2017). Peran Hajjah Rangkayo Rasuna Said dalam Memperjuangkan Hak-Hak Perempuan Indonesia. Risalah, 4(6). Universitas Negeri Yogyakarta.
Sufyan, F. H. (2022). Melumpuhkan Rasuna Said: Menuntut Indonesia Merdeka Tahun 1932. Danadyaksa Historica, 2(1), 71–79.

Temukan berbagai edukasi inspiratif dari WEWAW, komunitas pemberdayaan perempuan untuk berkembang dalam karier dan bisnis. Ikuti ragam kegiatan kami melalui:

Instagram: @wewaw.id
LinkedIn: WEWAW Indonesia
TikTok: @wewaw.id
Website: wewaw.org



Jadi Kontributor

Bagikan Cerita dan Wawasan di Artikel WAW

Punya pengalaman atau insight menarik? Kirimkan artikelmu dan jadilah bagian dari komunitas inspiratif WEWAW.

Jadi Kontributor

Bagikan Cerita dan Wawasan di Artikel WAW

Punya pengalaman atau insight menarik? Kirimkan artikelmu dan jadilah bagian dari komunitas inspiratif WEWAW.