WAWgirls, apakah kamu sedang merasa sudah menyelesaikan kuliah S2, mengerjakan tesis, melewati sidang, dan akhirnya menyandang gelar magister, tetapi setelah lulus justru masih susah dapat pekerjaan? Padahal, WAWgirls mungkin sudah melamar ke berbagai perusahaan sampai beberapa kali mengikuti wawancara, namun hasilnya belum juga sesuai harapan.

Sulitnya mendapat kesempatan bekerja menjadi fenomena yang belakangan terjadi di Indonesia. Gelar master ternyata tidak semudah itu menembus pasar kerja. Ini bukan semata-mata persoalan kompetensi. Ada sejumlah faktor dalam dunia kerja Indonesia yang perlu dipahami bersama.

Gelar Tinggi, Persaingan Tetap Tinggi

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), pada Agustus 2025 terdapat sekitar 7,46 juta penganggur di Indonesia. Dari jumlah tersebut, sekitar 904.000 orang merupakan lulusan pendidikan dari universitas. Angka ini mencakup kelompok pendidikan universitas secara keseluruhan, bukan hanya lulusan S2 (BPS, 2025).

Lantas, apakah kuliah tinggi menjadi sia-sia? Tentu tidak. Mendapatkan pekerjaan bukan hanya soal seberapa tinggi pendidikan seseorang, tetapi juga tentang ketersediaan lowongan, kesesuaian keterampilan, dan kebutuhan perusahaan.

Penelitian Friska dan Damayanti (2021), menemukan ada beberapa ketidaksesuaian antara tingkat pendidikan dengan lamanya durasi mencari pekerjaan di Indonesia. Artinya, WAWgirls yang sudah menempuh pendidikan tinggi pun bisa menghadapi proses mencari kerja yang lebih lama ketika pekerjaan yang tersedia belum sesuai dengan kualifikasinya.

Graduation-University-iStock-PeopleImages

Pendidikan dan Kebutuhan Dunia Kerja Tidak Sejalan

Pernah menemukan lowongan yang mensyaratkan pengalaman kerja beberapa tahun, padahal posisi tersebut terlihat cocok untuk lulusan baru? Atau menemukan pekerjaan yang relevan dengan jurusan, tetapi keterampilan teknis yang diminta ternyata belum pernah dipelajari secara mendalam selama kuliah?

Situasi seperti ini berkaitan dengan education-job mismatch, yaitu kondisi ketika pendidikan atau keterampilan seseorang tidak sesuai dengan tuntutan pekerjaannya. Dalam penelitian Khoiruddin dkk (2024) yang menggunakan data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) 2022, ketidaksesuaian pendidikan dan pekerjaan di Indonesia berkaitan dengan tingkat pendidikan, karakteristik individu, dan kondisi wilayah. Penelitian tersebut juga menunjukkan adanya hubungan antara tingkat pendidikan yang lebih tinggi dan kemungkinan mengalami overeducation.

Sederhananya, overeducation terjadi ketika pendidikan seseorang lebih tinggi daripada yang biasanya dibutuhkan untuk pekerjaan yang dijalaninya. Sebagai contoh, seorang lulusan S2 yang memiliki kemampuan penelitian dan analisis mendalam, melamar ke pekerjaan yang sebagian besar hanya membutuhkan kualifikasi S1 dan tidak terlalu memerlukan kemampuan penelitian dan analisis mendalam. Ketika melamar, ia bisa saja menjawab pertanyaan mengenai ekspektasi gaji, pengalaman kerja, atau kesediaan bekerja, namun perusahaan tidak sepenuhnya memanfaatkan pendidikannya. 

Di sisi lain, ketika melamar posisi yang lebih tinggi, perusahaan mungkin justru meminta pengalaman profesional yang belum dimilikinya. Akhirnya, lulusan S2 bisa berada dalam posisi serba tanggung, dianggap terlalu kompeten untuk satu pekerjaan, tetapi belum cukup berpengalaman untuk pekerjaan lainnya.

Namun, penting untuk diingat bahwa tidak semua lulusan S2 mengalami hal yang sama. Peluang kerja juga berbeda-beda menurut bidang studi, lokasi, dan jenis pekerjaan yang dituju.

Jadi, Apa Gunanya Kuliah S2 Kalau Begini?

WAWgirls, pendidikan magister tetap penting untuk bidang tertentu, seperti penelitian, akademik, analisis kebijakan, dan berbagai pekerjaan profesional yang membutuhkan keahlian khusus. Hanya saja, gelar akademik terkadang bukan satu-satunya hal yang dipertimbangkan perusahaan. Mereka juga ingin mengetahui apa yang bisa dikerjakan kandidat, masalah apa yang mampu diselesaikan, dan seberapa siap kandidat menjalankan tanggung jawab pekerjaan.

Misalnya, memiliki tesis yang bagus tentu menjadi nilai tambah. Namun, akan lebih meyakinkan jika juga mampu menjelaskan bagaimana hasil penelitian tersebut dapat digunakan untuk menjawab persoalan di dunia kerja. Begitu pula dengan kemampuan mengolah data, mengelola proyek, berkomunikasi, atau bekerja dalam tim. Keterampilan seperti ini perlu ditunjukkan melalui pengalaman atau hasil kerja yang relevan.

Jadi, persoalannya bukan sekadar memiliki gelar yang tinggi, melainkan bagaimana pengetahuan dan kemampuan tersebut bisa terlihat manfaatnya di dunia kerja.

job-seeker-Indonesia-iStock-Yazid-Nasuha

Lalu, Apa yang Bisa Dilakukan?

Apabila WAWgirls sedang berada dalam situasi ini, ada beberapa langkah yang bisa mulai dilakukan tanpa harus merasa wajib mengambil kursus atau sertifikasi baru sebanyak-banyaknya.

1. Cari tahu keterampilan yang benar-benar dibutuhkan perusahaan

Coba untuk mengumpulkan sejumlah lowongan yang sesuai dengan bidangmu. Perhatikan persyaratan yang paling sering muncul, mulai dari kemampuan teknis, pengalaman, hingga perangkat lunak yang perlu dikuasai. Dari situ, WAWgirls bisa menentukan kemampuan mana yang perlu diperkuat terlebih dahulu.

2. Jadikan hasil penelitian sebagai portofolio

Tesis, proyek kampus, dan pengalaman penelitian bisa menjadi portofolio. Tunjukkan masalah yang diteliti, metode yang digunakan, hasil yang diperoleh, dan manfaatnya. Dengan begitu, perekrut tidak hanya melihat gelar, tetapi juga bukti kemampuan yang dimiliki.

3. Buat CV yang menjawab kebutuhan lowongan

Jangan hanya menuliskan riwayat pendidikan, IPK, dan publikasi. Jelaskan juga kemampuan yang relevan dengan posisi yang dilamar. Pengalaman penelitian (misalnya), dapat menunjukkan kemampuan analisis dan pemecahan masalah. Pengalaman mengajar bisa memperlihatkan keterampilan komunikasi dan penyampaian informasi.

4. Buka peluang karier yang lebih luas

Pekerjaan yang sesuai dengan latar belakang pendidikan tidak selalu memiliki nama jabatan yang sama dengan bidang studi. Lulusan S2 bisa mempertimbangkan posisi di bidang riset, konsultasi, analisis, pengembangan program, atau pekerjaan lain yang masih memanfaatkan keahliannya. Proyek jangka pendek dan pekerjaan kontrak juga bisa menjadi pilihan untuk membangun pengalaman. Selama kondisi kerja, penghasilan, dan peluang perkembangannya berpotensi baik.

5. Evaluasi CV dan keterampilan

Ini juga penting, WAWgirls! Evaluasi CV dan keterampilan memang perlu, tetapi bukan berarti setiap ada penolakan, menandakan kemampuanmu kurang baik. Jumlah lowongan, persaingan, persyaratan pengalaman, dan kondisi ekonomi turut mempengaruhi kesempatan kerja. Karena itu, solusi tidak boleh hanya dibebankan kepada pencari kerja. Perguruan tinggi perlu memperkuat hubungan dengan dunia kerja, perusahaan perlu membuka jalur bagi kandidat potensial, dan pemerintah perlu mendorong terciptanya lebih banyak lapangan pekerjaan yang dimana bidang yang dibuka sesuai dengan potensi kandidat.

Gelar Tinggi, tapi Kesempatan Masih Sedikit

Sulit mendapatkan pekerjaan setelah lulus S2 bisa menjadi pengalaman yang melelahkan. Terlebih ketika sudah berusaha keras. Namun perlu diketahui bahwa kondisi ini bukan bukti bahwa kamu gagal atau pendidikan yang sudah ditempuh tidak memiliki nilai. Ada banyak faktor yang mempengaruhi perjalanan karier, dan tidak semuanya berada dalam kendali kita.

Yang bisa dilakukan adalah mengenali kebutuhan pasar kerja, memperjelas keterampilan yang dimiliki, serta mencari peluang yang sesuai tanpa menutup diri terhadap jalur karier lain. 

Jadi, bagi WAWgirls yang sedang berjuang mencari pekerjaan setelah S2, jangan langsung menganggap semua usaha yang sudah dilakukan sia-sia. Tetap berusaha dan nikmati setiap prosesmu ya, WAWgirls! 

Daftar pustaka

Badan Pusat Statistik. (2025, November 5). Tingkat pengangguran terbuka (TPT) sebesar 4,85 persen, rata-rata upah buruh sebesar 3,33 juta rupiah. 
Friska, M., & Damayanti, A. (2021). The effect of overeducation on unemployment duration in Indonesian. Jurnal Ekonomi dan Statistik Indonesia, 1(1), 1–13. 
Khoiruddin, M. A., Setyanti, A. M., Suman, A., Prasetyia, F., & Susilo, S. (2024). Exploring determinants of education-job mismatch among educated workers in Indonesia. Jurnal Ekonomi Pembangunan: Kajian Masalah Ekonomi dan Pembangunan, 25(2), 263–281. 

Catatan:  Angka pengangguran universitas dalam artikel merupakan data Agustus 2025, sedangkan penelitian yang dikutip menggunakan data dari tahun-tahun sebelumnya. Sehingga temuan penelitian lama bukan sebagai gambaran yang sepenuhnya mewakili kondisi saat ini. 

Temukan berbagai edukasi inspiratif dari WEWAW, komunitas pemberdayaan perempuan untuk berkembang dalam karier dan bisnis. Ikuti ragam kegiatan kami melalui:

Instagram: @wewaw.id
LinkedIn: WEWAW Indonesia
TikTok: @wewaw.id
Website: wewaw.org



Jadi Kontributor

Bagikan Cerita dan Wawasan di Artikel WAW

Punya pengalaman atau insight menarik? Kirimkan artikelmu dan jadilah bagian dari komunitas inspiratif WEWAW.

Jadi Kontributor

Bagikan Cerita dan Wawasan di Artikel WAW

Punya pengalaman atau insight menarik? Kirimkan artikelmu dan jadilah bagian dari komunitas inspiratif WEWAW.